- MWC NU Tungkal Ulu Sukses Gelar Lailatul Ijtima dan Haul Syekh Abdul Qadir Jailani di Desa Brasau
- Kawal Khidmat Lailatul Ijtima dan Haul Syekh Abdul Qodir Jailani PAC GP Ansor Tungkal Ulu Terjunkan Personel Pengamanan
- Perkuat Silaturahmi dan Ngalap Berkah, PAC GP Ansor Tungkal Ulu Gelar Ziarah ke Makam Tuan Guru Sapat
- MWC NU Tungkal Ulu undang Sahabat Ansor Banser Hadiri Lailatul Ijtima
- Khutbah Jumat: Berpegang Teguh pada Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Akidah Mayoritas Umat
- Muktamar Ke-35 NU Akan Digelar di Pesantren Tambakberas Jombang, 27-31 Agustus 2026
- PD-PKPNU II PCNU Tanjung Jabung Barat Di Ponpes Soleh Al-Mubarok
- Tarwiyah untuk Hari Kedelapan Dzulhijjah Dan 3 Peristiwa yang Melatari Penamaannya
- Safari Ramadhan MWCNU Tungkal Ulu di Desa Tanjung Tayas Perkuat Silaturahmi dan Keimanan
- GP-Ansor Tungkal ulu ikut bergabung penggalangan donasi untuk korban bencana yg melanda Aceh, Sumatra utara & Sumatra Barat
Bahaya Mendiagnosis Penyakit di Internet

Apakah Anda mengunjungi "dokter Google" lebih sering dari dokter di klinik? Anda tidak sendiri. Dalam sebuah survei tahun lalu di Amerika diketahui bahwa 35 persen responden mencocokkan gejala penyakitnya di internet dan mendiagnosis dirinya sendiri.
Masih menurut survei yang dilakukan The Pew Research Center's Internet & American Life Project itu, sekitar 41 responden mengatakan diagnosis sendiri itu ternyata dikonfirmasi kebenarannya oleh dokter.
Tetapi, sekitar satu dari tiga responden mengaku tidak pernah pergi ke dokter untuk mencari opini kedua. Malahan, 18 persen responden mengatakan bahwa upaya mendiagnosis sendiri itu ternyata salah ketika ditanyakan ke dokter.
Baca Lainnya :
- Makanan Penyumbang KegemukaN0
- Apakah dia mengalami Depresi? Cek Bicaranya0
- Cokelat Hitam Turunkan Tekanan Darah0
- Orang Beriman Kondisi Fisik n Mentalnya Lebih Sehat0
- 4 Alasan Kenapa Memaafkan Penting Bagi Kesehatan0
Meski survei yang melibatkan 3.000 responden itu sebenarnya dilakukan untuk mengetahui siapa yang mencari informasi kesehatan secara online, tetapi para profesional medis merasa khawatir dengan tren itu.
"Rata-rata tiap orang mengunjungi empat situs lalu memutuskan ia menderita kanker dan akan segera meninggal. Padahal, di internet banyak informasi yang keliru," kata Rahul K Khare, dokter unit gawat darurat dari Northwestern Memorial Hospital.
Menurut Khare, ia sering menemukan pasien yang hidupnya menjadi penuh kecemasan karena mereka merasa menderita penyakit berat setelah mencocokkan gejala yang dirasakannya dengan informasi di internet. (sumber: kompas.com)











