- Khutbah Jumat: Berpegang Teguh pada Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Akidah Mayoritas Umat
- Muktamar Ke-35 NU Akan Digelar di Pesantren Tambakberas Jombang, 27-31 Agustus 2026
- PD-PKPNU II PCNU Tanjung Jabung Barat Di Ponpes Soleh Al-Mubarok
- Tarwiyah untuk Hari Kedelapan Dzulhijjah Dan 3 Peristiwa yang Melatari Penamaannya
- Safari Ramadhan MWCNU Tungkal Ulu di Desa Tanjung Tayas Perkuat Silaturahmi dan Keimanan
- GP-Ansor Tungkal ulu ikut bergabung penggalangan donasi untuk korban bencana yg melanda Aceh, Sumatra utara & Sumatra Barat
- Ranting NU Desa Taman Raja Gelar Lailatul Ijtima & Pelantikan Pengurus Sekecamatan Tungkal Ulu.
- Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW-NU) Provinsi Jambi mengadakan Halal Bihalal, bertempat di auditorium rumah dinas Gubernur Jambi
- Badan Otonom Nahdhatul Ulama Muslimat Fatayat dan Ansor Banser Tungkal Ulu Isi Kegiatan Ramadhan Bagikan Takjil Gratis di Desa Gemuruh
- Safari Ramadhan, GP Ansor Tungkal Ulu Isi Pelaksanaan Tarawih di Masjid Al – Mubarok Desa Gemuruh
Tarwiyah untuk Hari Kedelapan Dzulhijjah Dan 3 Peristiwa yang Melatari Penamaannya

(Jakarta, NU Online) Sumber: https://www.nu.or.id/nasional/3-peristiwa-yang-melatari-penamaan-tarwiyah-untuk-hari-kedelapan-dzulhijjah-nlLZ6
Umat Islam saat ini telah memasuki bulan Dzulhijjah tahun 1447 H sejak Senin (18/5/2026) lalu. Bulan kedua belas Hijriah ini memiliki hari-hari istimewa, di antaranya adalah hari Tarwiyah, yakni hari kedelapan dari bulan tersebut. "Tarwiyah merupakan hari kedelapan Dzulhijah yang mempunyai makna berpikir atau merenung. Karenanya, hari Tarwiyah identik dengan keadaan berpikir dan merenung tentang peristiwa yang masih dipenuhi keraguan," tulis Ustadz Sunnatullah menukil keterangan Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib yang ditulis dalam artikelnya berjudul 'Penamaan Hari Tarwiyah, Arafah dan Keutamaannya', dikutip NU Online pada Ahad (24/5/2026).
Setidaknya, Al-Razi menguraikan tiga pandangan mengenai hari kedelapan bulan Dzulhijjah ini disebut tarwiyah. Pertama, hal yang melatari penamaan tarwiyah itu peristiwa Nabi Adam yang merenung saat membangun Ka’bah. Diceritakan, Nabi Adam ketika diperintah untuk membangun sebuah rumah. Saat ia membangun, ia berpikir dan berkata, ‘Tuhanku, sesungguhnya setiap orang yang bekerja akan mendapatkan upah, maka apa upah yang akan saya dapatkan dari pekerjaan ini?’ Allah swt menjawab: ‘Ketika engkau melakukan thawaf di tempat ini, maka aku akan mengampuni dosa-dosamu pada putaran pertama thawafmu.’ Mendengar jawaban tersebut, Nabi Adam as memohon, ‘Tambahlah (upah)ku’. Allah menjawab: ‘Saya akan memberikan ampunan untuk keturunanmu apabila melakukan thawaf di sini’.
Baca Lainnya :
Nabi Adam as memohon, ‘Tambahlah (upah)ku’. Allah menjawab: ‘Saya akan mengampuni (dosa) setiap orang yang memohon ampunan saat melaksanakan tawaf dari keturunanmu yang mengesakan (Allah).’ Kedua, peristiwa Nabi Ibrahim as yang merenungi secara mendalam peristiwa yang dialami dalam mimpinya. "Sesungguhnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm bermimpi ketika sedang tidur pada malam Tarwiyah, seakan hendak menyembelih anaknya, maka ketika waktu pagi datang, ia berpikir apakah mimpi itu dari Allah subhânahu wata’âlâ atau dari setan?" tulis Ustadz Sunnatullah mengutip Al-Razi.
Bagi Jamaah Haji di Mina Malam berikutnya, Nabi Ibrahim kembali memimpikan peristiwa serupa, yakni diperintah untuk menyembelih putranya. Kemudian Nabi Ibrahim as menegaskan bahwa mimpi tersebut betul-betul datang dari Allah swt. Ketiga, peristiwa orang haji yang merenungi tentang doa-doa yang hendak dipanjatkan pada saat wukuf di Arafah esoknya, yakni pada tanggal 9 Dzulhijjah. "Sesungguhnya penduduk Makkah keluar pada hari Tarwiyah menuju Mina, kemudian mereka berpikir tentang doa-doa yang akan mereka panjatkan pada keeseokan harinya, di hari Arafah,” lanjut keterangan tersebut.










